MAKALAH
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN OSTEMIELITIS
Dosen Pembimbing :
Ns.Giat Wantoro,S.kep
Disusun Oleh :
Kelompok 1
kelas : A (Semester III)
PROGRAM STUDI SI KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
BAITURRAHIM JAMBI
2014/2015
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena berkat
karuniaNyalah, makalah yang berjudul “Asuhan Keperawatan Pada osteomielitis” ini bisa diselesaikan. Tujuan dari penulisan makalah ini ialah untuk
menambah pengetahuan tentang teori osteomielitis dan cara pembuatan
asuhan keperawatan osteomielitis. Sehingga dengan mengetahui penanganannya
yang benar, seorang tenaga kesehatan dapat segera mengambil tindakan
sehingga dapat meningkatkan pelayanan kesehatan osteomielitis yang baik.
Penulis juga menyampaikan rasa terima kasih kepada
Dosen yang telah memberikan tugas untuk menulis makalah ini, serta kepada siapa
saja yang telah terlibat dalam proses penulisannya, yang senantiasa memotivasi.
Akhirnya, harapan penulis semoga makalah ini
bermanfaat bagi pembaca. Penulis telah berusaha sebisa mungkin untuk
menyelesaikan makalah ini, namun penulis menyadari makalah ini belumlah sempurna.Oleh karena itu, penulis mengharapakan kritik dan saran
yang sifatnya membangun guna menyempurnakan makalah ini.
Jambi, Desember 2014
Kelompok 1
DAFTAR ISI
LAMPIRAN ...................................................................................................................... i
KATA PENGANTAR....................................................................................................... ii
DAFTAR
ISI...................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG .................................................................................... 1
B. RUMUSAN
MASALAH................................................................................ 1
C. TUJUAN.......................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN................................................................................................ 3
B. ANATOMI FISIOLOGI................................................................................. 4
C. KLASIFIKASI OSTEOMIELITIS................................................................. 5
D. ETIOLOGI............... ........................................................................................ 7
E. PATOFISIOLOGI........................................................................................... 8
F. MANIFESTASI KLINIS................................................................................ 9
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG.................................................................... 7
H. PENATALAKSANAAN MEDIS................................................................... 11
I. KOMPLIKASI................................................................................................. 14
J. PROSES KEPERAWATAN........................................................................... 15
BAB IIIPENUTUP
A. KESIMPULAN................................................................................................ 25
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................ 26
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Terbatasnya asupan darah, respons jaringan terhadap inflamasi, tingginya
tekanan jaringan dan pembentukan involukrum (Pembentukan tulang baru
disekeliling jaringan tulang mati). Infeksi disebabkan oleh penyebaran
hematogen (melalui darah) dari fukos infeksi di tempat lain ( misalnya : tonsil
yang terinfeksi, lepuh, gigi terinfeksi, infeksi saluran nafas). Osteomielitis
akibat penyebaran hematogen biasanya terjadi di tempat di mana terdapat trauma
atau di mana terdapat resistensi rendah, kemungkinan akibat trauma subklinis
(tak jelas).
Infeksi dapat berhubungan dengan penyebaran infeksi jaringan lunak
(misalnya : ulkus dekubitus yang terinfeksi atau ulkus vaskuler) atau
kontaminasi langsung tulang ( misalnya : fraktur terbuka, cedera traumatic
seperti luka tembak, pembedahantulang).
Pasien yang beresiko tinggi mengalami Osteomielitis adalah mereka yang nutrisinya buruk, lansia, kegemukan, atau penderita diabetes mellitus. Selain itu, pasien yang menderita artitis rheumatoid, telah di rawat lama di rumah sakit, mendapat terapi kortikosteroid jangka panjang, menjalani pembedahan sendi sebelum operasi sekarang, atau sedang mengalami sepsis rentan, begitu pula yang menjalani pembedahan ortopedi lama, mengalami infeksi luka mengeluarkan pus, mengalami nefrosis insisi margial atau dehidrasi luka, atau memerlukan evakuasi hematoma pascaoperasi.
Pasien yang beresiko tinggi mengalami Osteomielitis adalah mereka yang nutrisinya buruk, lansia, kegemukan, atau penderita diabetes mellitus. Selain itu, pasien yang menderita artitis rheumatoid, telah di rawat lama di rumah sakit, mendapat terapi kortikosteroid jangka panjang, menjalani pembedahan sendi sebelum operasi sekarang, atau sedang mengalami sepsis rentan, begitu pula yang menjalani pembedahan ortopedi lama, mengalami infeksi luka mengeluarkan pus, mengalami nefrosis insisi margial atau dehidrasi luka, atau memerlukan evakuasi hematoma pascaoperasi.
B. TUJUAN
a. Tujuan Umum
Secara umum makalah ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang asuhan
keperawatan osteomielitis
b. Tujuan
Khusus
1. Menjelaskan definisi
dari osteomielitis
2. Menjelaskan etiologi
dari osteomielitis
3. Menjelaskan
patifisiologi dari osteomielitis
4. Menjelaskan manifestasi
klinis dan pengobatan dari osteomielitis
5. Menjelaskan komplikasi
dari osteomielitis
6. Menjelaskan asuhan
keperawatan dari osteomielitis
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
A. Definisi
Osteomielitis adalah infeksi tulang. Infeksi tulang lebih sulit disembuhkan
daripada infeksi jaringan lunak karena terbatasnya asupan darah, respons
jaringan terhadap inflamasi, tingginya tekanan jaringan dan pembentukan
involukrum (pembentukan tulang baru di sekeliling jaringan tulang mati).
Osteomielitis dapat menjadi masalah kronis yang akan mempengaruhi kualitas
hidup atau mengakibatkan kehilangan ekstremitas. (Brunner, suddarth.
(2001). Beberapa ahli memberikan defenisi terhadap osteomyelitis
sebagai berkut :
a. Osteomyelitis adalah
infeksi Bone marrow pada tulang-tulang panjang yang disebabkan oleh
staphylococcus aureus dan kadang-kadang Haemophylus influensae (Depkes RI,
1995).
b. Osteomyelitis adalah
infeksi tulang (Carpenito, 1990).
c. Osteomyelitis adalah
suatu infeksi yang disebarkan oleh darah yang disebabkan oleh staphylococcus
(Henderson, 1997).
B. Anatomi
dan Fisiologi
Pada umumnya penyusun tulang diseluruh tubuh kita semuanya berasal dari
material yang sama. Dari luar ke dalam kita akan dapat menemukan
lapisan-lapisan berikut ini:
a. Periosteum
Pada lapisan pertama kita akan bertemu dengan yang namanya periosteum.
Periosteum merupakan selaput luar tulang yang tipis. Periosteum mengandung
osteoblas (sel pembentuk jaringan tulang), jaringan ikat dan pembuluh darah.
Periosteum merupakan tempat melekatnya otot-otot rangka (skelet) ke tulang dan
berperan dalam memberikan nutrisi, pertumbuhan dan reparasi tulang rusak.
b. Tulang
Kompak (Compact Bone)
Pada lapisan kedua ini kita akan bertemu dengan tulang kompak. Tulang ini
teksturnya halus dan sangat kuat. Tulang kompak memiliki sedikit rongga dan
lebih banyak mengandung kapur (Calsium Phosfat dan Calsium Carbonat) sehingga
tulang menjadi padat dan kuat. Kandungan tulang manusia dewasa lebih banyak
mengandung kapur dibandingkan dengan anak-anak maupun bayi. Bayi dan anak-anak
memiliki tulang yang lebih banyak mengandung serat-serat sehingga lebih lentur.
Tulang kompak paling banyak ditemukan pada tulang kaki dan tulang tangan.
c. Tulang
Spongiosa (Spongy Bone)
Pada lapisan ketiga ada yang disebut dengan tulang spongiosa. Sesuai dengan
namanya tulang spongiosa memiliki banyak rongga. Rongga tersebut diisi oleh
sumsum merah yang dapat memproduksi sel-sel darah. Tulang spongiosa terdiri
dari kisi-kisi tipis tulang yang disebut trabekula. Tulang ini terdiri
atas batang yang halus atau selubung yang halus yaitu trabekula (L. Singkatan
dari trabs = sebuah balok) yang bercabang dan saling memotong ke berbagai arah
untuk membentuk jala-jala seperti spons dari spikula tulang, yang
rongga-rongganya diisi oleh sumsum tulang. Pars spongiosa merupakan jaringan
tulang yang berongga seperti spon (busa). Rongga tersebut diisi oleh sumsum
merah yang dapat memproduksi sel-sel darah. Tulang spongiosa terdiri dari
kisi-kisi tipis tulang yang disebut trabekula.
d. Sumsum
Tulang (Bone Marrow)
Lapisan terakhir yang
kita temukan dan yang paling dalam adalah sumsum tulang. Sumsum tulang wujudnya
seperti jelly yang kental. Sumsum tulang ini dilindungi oleh tulang spongiosa
seperti yang telah dijelaskan dibagian tulang spongiosa. Sumsum tulang berperan
penting dalam tubuh kita karena berfungsi memproduksi sel-sel darah yang ada
dalam tubuh.
C. Klasifikasi
Osteomielitis
1. Osteomielitis Primer.
Penyebarannya secara
hematogen dimana mikroorganisme berasal dari focus ditempat lain dan beredar
melalui sirkulasi darah.
2. Osteomielitis Sekunder.
Terjadi akibat
penyebaran kuman dari sekitarnya akibat dari bisul, luka fraktur
dan sebagainya.
Berdasarkan lama
infeksi, osteomielitis terbagi menjadi 3, yaitu:
1. steomielitis akut
Yaitu osteomielitis yang
terjadi dalam 2 minggu sejak infeksi pertama atau sejak penyakit pendahulu
timbul. Osteomielitis akut ini biasanya terjadi pada anak-anak dari pada orang
dewasa dan biasanya terjadi sebagai komplikasi dari infeksi di dalam darah.
(osteomielitis hematogen) Osteomielitis akut terbagi menjadi 2, yaitu:
a) Osteomielitis hematogen
Merupakan infeksi yang
penyebarannya berasal dari darah. Osteomielitis hematogen akut biasanya
disebabkan oleh penyebaran bakteri darah dari daerah yang jauh. Kondisi ini
biasanya terjadi pada anak-anak. Lokasi yang sering terinfeksi biasa merupakan
daerah yang tumbuh dengan cepat dan metafisis menyebabkan thrombosis dan
nekrosis local serta pertumbuhan bakteri pada tulang itu sendiri. Osteomielitis
hematogen akut mempunyai perkembangan klinis dan onset yang lambat.
b) Osteomielitis direk
Disebabkan oleh kontak
langsung dengan jaringan atau bakteri akibat trauma atau pembedahan.
Osteomielitis direk adalah infeksi tulang sekunder akibat inokulasi bakteri
yang menyebabkan oleh trauma, yang menyebar dari focus infeksi atau sepsis
setelah prosedur pembedahan. Manifestasi klinis dari osteomielitis direk lebih
terlokasasi dan melibatkan banyak jenis organisme.
2. Osteomielitis sub-akut
Yaitu osteomielitis yang
terjadi dalam 1-2 bulan sejak infeksi pertama atau sejak penyakit pendahulu
timbul.
3. Osteomielitis kronis
Yaitu osteomielitis yang terjadi dalam 2 bulan atau lebih sejak infeksi
pertama atau sejak penyakit pendahulu timbul. Osteomielitis sub-akut dan kronis
biasanya terjadi pada orang dewasa dan biasanya terjadi karena ada luka atau
trauma (osteomielitis kontangiosa), misalnya osteomielitis yang terjadi pada
tulang yang fraktur.
Osteomyelitis menurut penyebabnya adalah osteomyelitis biogenik yang paling
sering :
1. Staphylococcus (orang dewasa)
2. Streplococcus (anak-anak)
3. Pneumococcus dan Gonococcus
D. Etiologi
1. Bakteri
Menurut Joyce &
Hawks (2005), penyebab osteomyelitis adalah Staphylococcus aureus (70% - 80%),
selain itu juga bisa disebabkan oleh Escherichia coli, Pseudomonas,
Klebsiella, Salmonella, dan Proteus.
2. Virus
3. Jamur
4. Mikroorganisme
lain (Smeltzer, Suzanne C, 2002).
Infeksi dari jaringan lunak di dekatnya
Osteomyelitis dapat
berhubungan dengan penyebaran infeksi jaringan lunak Infeksi
pada jaringan lunak di sekitar tulang bisa menyebar ke tulang setelah beberapa
hari atau minggu. Infeksi jaringan lunak bisa timbul di daerah yang mengalami
kerusakan karena cedera, terapi penyinaran atau kanker, atau ulkus di kulit
yang disebabkan oleh jeleknya pasokan darah (misalnya ulkus dekubitus yang
terinfeksi).
Osteomyelitis dapat timbul akut atau kronik. Bentuk akut dicirikan dengan
adanya awitan demam sistemik maupun manifestasi lokal yang
berjalan dengan cepat. Osteomyelitis kronik adalah akibat dari osteomielitis
akut yang tidak ditangani dengan baik. Osteomyelitis kronis akan mempengaruhi
kualitas hidup atau mengakibatkan kehilangan ekstremitas. Luka tusuk pada
jaringan lunak atau tulang akibat gigitan hewan, manusia atau penyuntikan
intramuskular dapat menyebabkan osteomyelitis eksogen. Osteomyelitis akut
biasanya disebabkan oleh bakteri, maupun virus, jamur, dan mikroorganisme lain.
Pasien yang beresiko tinggi mengalami osteomielitis adalah mereka yang
nutrisinya buruk, lansia, kegemukan, atau penderita diabetes mellitus. Selain
itu, pasien yang menderita artritis rheumatoid, telah di rawat lama di rumah
sakit, menjalani pembedahan ortopedi, mengalami infeksi luka
mengeluarkan pus, juga beresiko mengalami osteomyelitis.
E. Patofisiologi
Menurut Smeltzer, Suzanne (2001), Staphylococcus aureus merupakan penyebab
terbesar infeksi tulang. Organisme patogenik lainnya yang sering dijumpai pada
osteomielitis meliputi Haemophylus influenza, bakteri colli, salmonella
thyposa, proteus, pseudomonas. Terdapat peningkatan insiden infeksi
resisten penisilin, nosokomial, gram negative dan anaerobic. Awitan
osteomilitis setelah pembedahan ortopedi dapat terjadi dalam 3 bulan pertama (
akut fulminan stadium 1 ) dan sering berhubungan dengan penumpukan
hematoma atau infeksi superficial. Infeksi awitan lambat ( stadium 2 ) terjadi
antara 4 – 24 bulan setelah pembedahan. Osteomielitis awitan lama ( stadium 3
) biasanya akibat penebaran hematogen dan terjadi 2 tahun atau lebih
setelah pembedahan. Respons inisial tahap infeksi adalah salah satu dari
inflamasi, peningkatan faskularisasi dan edema, setelah 2 atau 3 hari,
thrombosis pada pembuluh darah terjadi pada tempat tersebut, mengakibatkan
iskemia dengan nekrosis tulang sehubungan dengan peningkatan tekanan jaringan
dan medulla. Infeksi kemudian berkembang ke kavitas medularis dan ke bawah
periosteum dan dapat menyebar ke jaringan lunak atau sendi disekitarnya.
Kecuali bila proses infeksi dapat dikontrol awal, kemudian akan terbentuk
abses tulang. Pada perjalanan alamiahnya, abses dapat keluar spontan,
namun yang lebih sering harus dilakukan insisi dan drainase oleh ahli bedah.
Abses yang terbentuk dalam dindingnya terbentuk daerah jaringan mati, namun
seperti pada rongga abses pada umumnya, jaringan tulang mati ( sequestrum )
tidak mudah mencair dan mengalir ke luar. Rongga tidak dapat mengempis dan
menyembuh, seperti yang terjadi pada jaringan lunak. Terjadi pertumbuhan luka
baru ( involukrum ) dan mengelilingi sequestrum. Jadi meskipun tampak terjadi
proses penyembuhan namun sequestrum infeksius kronis yang tetap rentan
mengeluarkan abses kambuhan sepanjang hidup pasien. Dinamakan osteomielitis
tipe kronik.
F. Manifestasi Klinis
a. Fase
akut
Fase sejak infeksi
sampai 10-15 hari. Makin panas tinggi, nyeri tulang dekat sendi, tidak dapat
menggerakan anggota tubuh.
b. Fase
kronik
Rasa sakit tidak begitu
berat, anggota yang terkena merah dan bengkak dengan pus yang selalu mengalir
keluar dari sinus atau mengalami periode berulang nyeri, inflamasi, dan
pengeluaran pus. Infeksi derajat rendah dapat terjadi pada jaringan parut
akibat kurangnya asupan darah.
G. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan
darah
Sel darah putih
meningkat sampai 30.000 L gr/dl disertai peningkatan laju endap darah.
2. Pemeriksaan
titer antibody – anti staphylococcus
Pemeriksaan kultur darah
untuk menentukan bakteri (50% positif) dan diikuti dengan uji sensitivitas
3. Pemeriksaan feses
Pemeriksaan feses untuk kultur
dilakukan apabila terdapat kecurigaan infeksi oleh
bakteri salmonella.
4. Pemeriksaan biopsy tulang.
Merupakan proses
pengambilan contoh tissue tulang yang akan digunakan untuk serangkaian tes.
5. Pemeriksaan
ultra sound.
Yaitu pemeriksaan yang
dapat memperlihatkan adannya efusi pada sendi.
6. Pemeriksaan
radiologis
Pemeriksaan photo polos
dalam 10 hari pertama tidak ditemukan kelainan radiologik. Setelah 2 minggu
akan terlihat berupa refraksi tulang yang bersifat difus dan kerusakan tulang
dan pembentukan tulang yang baru.
7. Pemeriksaan tambahan :
a. Bone scan
: dapat dilakukan pada minggu pertama
b.
MRI : jika terdapat fokus
gelap pada T1 dan fokus yang terang pada T2, maka kemungkinan
besar adalah osteomielitis.
H. Penatalaksanaan Medis
Osteomielitis hematogen akut paling bagus di obati dengan evaluasi tepat
terhadap mikroorganisme penyebab dan kelemahan mikroorganisme tersebut dan 4-6
minggu terapi antibiotic yang tepat.
Debridement tidak perlu dilakukan jika telah cepat diketahui. Anjuran
pengobatan sekarang jarang memerlukan debridement. Bagaimana jika terapi
antibiotic gagal, debridement dan pengobatan 4-6 minggu dengan antibiotic
parenteral sangat diperlukan. Setelah kultur mikroorganisme dilakukan, regimen
antibiotic parenteral (nafcillin[unipen] + cefotaxime lain [claforan] atau
ceftriaxone [rocephin]) diawali untuk menutupi gejala klinis organism
tersangka. Jika hasil kultur telah diketahui, regimen antibiotic ditinjau
kembali. Anak-anak dengan osteomielitis akut harus menjalani 2 minggu
pengobatan dengan antiniotik parenteral sebelum anak-anak diberikan antibiotic
oral.
Osteomielitis kronis pada orang dewasa lebih sulit disembuhkan dan umumnya
diobati dengan antibiotic dan tindakan debridement. Terapi antibiotik oral
tidak dianjurkan untuk digunakan. Tergantung dari jenis osteomielitis kronis.
Pasien mungkin diobati dengan antibiotik parenteral selama 2-6 minggu.
Bagaimanapun,tanpa debridement yang bagus, osteomielitis kronis tidak akan
merespon terhadap kebanyakan regiment antibiotic, berapa lama pun terapi
dilakukan. Terapi intravena untuk pasien rawat jalan menggunakan kateter
intravena yang dapat dipakai dalam jangka waktu lama (contohnya : kateter
hickman) akan menurunkan masa rawat pasien di rumah sakit.
Terapi secara oral menggunakan antibiotic fluoroquinolone untuk organism
gram negative sekarang ini digunakan pada orang dewasa dengan osteomielitis.
Tidak ada fluoroquinolone yang tersedia digunakan sebagai antistaphylococcus
yang optimal, keuntungan yang paling penting dari insidensi kebalnya infeksi
nosokomial yang didapat dengan bakteri staphylococcus. Untuk lebih lanjutnya,
sekarang ini quinolone tidak menyediakan pengobatan
Daerah yang terkana harus diimobilisasi untuk mengurangi ketidak nyamanan
dan mencegah terjadinya fraktur. Dapat dilakukan rendaman salin hangat selama
20 menit beberapa kali per hari untuk meningkatkan aliran darah.
Sasaran awal terapi adalah mengontrol dan menghentikan proses infeksi,
Kultur darah dan swab dan kultur abses dilakukan untuk mengidentifikasi
organisme dan memilih antibiotika yang terbaik. Kadang, infeksi disebabkan oleh
lebih dari satu patogen.
Begitu spesimen kultur telah diperoleh, dimulai pemberian terapi
antibiotika intravena, dengan asumsi bahwa dengan infeksi staphylococcus yang
peka terhadap penisilin semi sintetik atau sefalosporin. Tujuannya adalah
mengentrol infeksi sebelum aliran darah ke daerah tersebut menurun akibat
terjadinya trombosis. Pemberian dosis antibiotika terus menerus sesuai waktu
sangat penting untuk mencapai kadar antibiotika dalam darah yang terus menerus
tinggi. Antibiotika yang paling sensitif terhadap organisme penyebab yang
diberikan bila telah diketahui biakan dan sensitivitasnya. Bila infeksi tampak
telah terkontrol, antibiotika dapat diberikan per oral dan dilanjutkan sampai 3
bulan. Untuk meningkatkan absorpsi antibiotika oral, jangan diminum bersama
makanan.
Bila pasien tidak menunjukkan respons terhadap terapi antibiotika, tulang
yang terkena harus dilakukan pembedahan, jaringan purulen dan nekrotik diangkat
dan daerah itu diiringi secara langsung dengan larutan salin fisiologis steril.
Tetapi antibitika dianjurkan.
Pada osteomielitis kronik, antibiotika merupakan ajuran terhadap debridemen
bedah. Dilakukan sequestrektomi (pengangkatan involukrum secukupnya supaya ahli
bedah dapat mengangkat sequestrum). Kadang harus dilakukan pengangkatan tulang
untuk memajankan rongga yang dalam menjadi cekungan yang dangkal
(saucerization). Semua tulang dan kartilago yang terinfeksi dan mati diangkat
supaya dapat terjadi penyembuhan yang permanen.
Luka dapat ditutup rapat untuk menutup rongga mati (dead space) atau
dipasang tampon agar dapat diisi oleh jaringan granulasi atau dilakukan
grafting dikemudian hari. Dapat dipasang drainase berpengisap untuk mengontrol
hematoma dan mebuang debris. Dapat diberikan irigasi larutan salin normal
selama 7 sampai 8 hari. Dapat terjadi infeksi samping dengan pemberian irigasi
ini.
Rongga yang didebridemen dapat diisi dengan graft tulang kanselus untuk
merangsang penyembuhan. Pada defek yang sangat besar, rongga dapat diisi dengan
transfer tulang berpembuluh darah atau flup otot (dimana suatu otot diambil
dari jaringan sekitarnya namun dengan pembuluh darah yang utuh). Teknik bedah
mikro ini akan meningkatkan asupan darah; perbaikan asupan darah kemudian akan
memungkinkan penyembuhan tulang dan eradikasi infeksi. Prosedur bedah ini dapat
dilakukan secara bertahap untuk menyakinkan penyembuhan. Debridemen bedah dapat
melemahkan tulang, kemudian memerlukan stabilisasi atau penyokong dengan
fiksasi interna atau alat penyokong eksterna untuk mencegah terjadinya patah
tulang.
Pemberian antibiotic
dapat dilakukan :
1. Melalui oral (mulut)
2. Melalui infuse : jika diberikan melalui infus, maka diberikan selama 2
minggu, kemudian. Diganti menjadi melalui mulut. Jika dalam 24 jam pertama
gejala tidak membaik, maka perlu dipertimbangkan untuk dilakukan tindakan
operasi untuk mengurangi tekanan yang terjadi dan untuk mengeluarkan nanah yang
ada. Setelah itu dilakukan irigasi secara kontinyu dan dipasang drainase.
Teruskan pemberian antibiotik selama 3-4 minggu hingga nilai laju endap darah
(LED) normal
I. Komplikasi
1. Dini
:
a. Kekakuan
yang permanen pada persendian terdekat (jarang terjadi)
b. Abses
yang masuk ke kulit dan tidak mau sembuh sampai tulang yang mendasarinya
sembuh
c. Atritis
septik
2. Lanjut
:
a. Osteomielitis kronik ditandai oleh nyeri hebat
rekalsitran, dan penurunan fungsi tubuh yang terkena.
b. Fraktur
patologis
c. Kontraktur
sendi
d. Gangguan
pertumbuhan
J. Proses
Keperawatan
a. Pengkajian
1. Identitas Pasien
a. Nama
b. Umur
c. Agama
d. Jenis kelamin
e. Alamat
f. Suku bangsa
g. Pekerjaan
h. Pendidikan
i. Status
2. Identitas penanggung
jawab
a. Nama
b. Umur
c. Agama
d. Jenis kelamin
e. Alamat
f. Suku/bangsa
g. Pekerjaan
h. Pendidikan
i. Status
j. Hubungan dengan klien
2. Riwayat
Kesehatan
a. Riwayat
Kesehatan Sekarang
Kaji adanya riwayat
trauma fraktur terbuka, riwayat operasi tulang dengan pemasangan fiksasi
internal dan fiksasi eksternal dan pada osteomielitis kronis penting ditanyakan
apakah pernah mengalami osteomielitis akut yang tidak diberi perawatan adekuat
sehingga memungkinkan terjadinya supurasi tulang.
b. Riwayat
Kesehatan Dahulu
Ada riwayat infeksi
tulang, biasanya pada daeah vertebra torako-lumbal yang terjadi akibat
torakosentesis atau prosedur urologis. Dapat ditemukan adanya riwayat diabetes
melitus, malnutrisi, adiksi obat-obatan, atau pengobatan imunosupresif.
c. Pemeriksaan
Fisik
1) Keadaan
Umum
· Tingkat kesadaran (apatis, sopor, koma, gelisah, kompos mentis yang
bergantung pada keadaan klien).
· Kesakitan atau keadaan penyakit (akut, kronis, ringan, sedang, dan paa
kasus osteomielitis biasanya akut)
· Tanda-tanda vital tidak normal
2) Sistem Pernafasan
Pada inspeksi,
didapatkan bahwa klien osteomielitis tidak mengalami kelainan pernafasan. Pada
palpasi toraks, ditemukan taktil fremitus seimbang kanan dan kiri. Pada
auskultasi, tidak didapatkan suara nafas tambahan.
3) Sistem
Kardiovaskuler
Pada inspeksi, tidak
tampak iktus jantung. Palpasi menunjukkan nadi meningkat, iktus tidak teraba.
Pada auskultasi, didapatkan suara S1 dan S2 tunggal, tidak ada murmur.
4) Sistem Muskuloskeletal
Adanya osteomielitis
kronis dengan proses supurasi di tulang dan osteomielitis yang menginfeksi
sendi akan mengganggu fungsi motorik klien. Kerusakan integritas jaringan pada
kulit karena adanya luka disertai dengan pengeluaran pus atau cairan bening
berbau khas.
5) Tingkat kesadaran
Tingkat kesadaran biasanya kompos metis.
6) Sistem perkemihan
Pengkajian keadaan urine
meliputi warna, jumlah, karakteristik, dan berat jenis. Biasanya klien
osteomielitis tidak mengalami kelainan pada sitem ini.
7) Pola nutrisi dan metabolism
Evaluasi terhadap pola
nutrisi klien dapat menentukan penyebab masalah muskuloskeletal dan
mengantisipasi komplikasi dari nutrisi yang tidak adekuat. Masalah nyeri pada
osteomielitis menyebabkan klien kadang mual atau muntah sehingga pemenuhan
nutrisi berkurang.
b. Diagnosa
1. Nyeri berhubungan dengan inflamasi dan pembengkakan
2. Gangguan mobilisasi fisik berhubungan dengan nyeri, alat
imobilisasi dan keterbatasan menahan beban berat badan.
3. Resiko terhadap penyebaran infeksi berhubungan dengan
pembentukan abses tulang, kerusakan kulit
4. Gangguan intergritas
kulit berhubungan dengan efek pembedahan ; imobilisasi
c. NCP
|
NO
|
DIAGNOSA
|
NOC
|
NIC
|
AKTIVITAS
|
|
1.
|
Nyeri b/d inflamasi
dan pembengkakan
|
Dalam waktu 1x24 jam
klien mengatakan nyeri berkurang.
Dengan KH:
- Tidak terjadi nyeri.
- ekspresi wajah rileks.
|
Manajemen nyeri
|
Mandiri
1. Kaji karakteristik nyeri: lokasi, durasi, intensitas nyeri.
2. Atur posisi imobilisasi pada daerah nyeri sendi atau nyeri di tulang yang
mengalami infeksi.
3. Ajarkan relaksasi : teknik mengurangi ketegangan otot rangka
yang dapat mengurangi intensitas nyeri dan meningkatan relaksasi masase.
4. Ajarkan metode distraksi selama nyeri akut.
5. Ajarkan teknik nafas dalam
|
|
2.
|
Gangguan mobilisasi fisik b/d nyeri, alat imobilisasi dan
keterbatasan menahan beban berat badan.
|
Setelah dilakukan
perwatan klien dapat menunjukkan tidak ada gangguan imobilitas berkurang
Dengan KH:
- Meningkatkan mobilitas pada tingkat paling tinggi yang mungkin.
- Mempertahankan posisi fungsional.
- Meningkatkan / fungsi yang sakit.
- Menunjukkan teknik mampu melakukan aktivitas
|
Perawatan tirah baring
|
1. Pertahankan tirah baring dalam posisi yang di programkan.
2. Tinggikan ekstremitas yang sakit.
3. instruksikan klien / bantu dalam latihan rentang gerak pada ekstremitas
yang sakit dan tak sakit.
4. Beri penyanggah pada ekstremitas yang sakit pada saat bergerak.
5. Jelaskan pandangan dan keterbatasan dalam aktivitas
6. Ubah posisi secara periodic
|
|
3.
|
Resiko terhadap
penyebaran infeksi b/d pembentukan abses tulang, kerusakan kulit
|
Setelah
dilakukan tindakan keperawatanselama 3 x 24 jam, maka diharapkan
penyembuhan luka sesuai waktu yang dicatat dan tidak terjadinya infeksi yang
berkelanjutan.
Dengan KH:
- Penyembuhan luka sesuai waktu yang dicatat.
- bebas drainase purulen dan demam.
- tidak terjadinya infeksi yang berkepanjangan.
|
Penyembuhan luka
|
1. Inspeksi kulit atau adanya iritasi atau adanya kontinuitas.
2. Kaji sisi kulit perhatikan keluhan peningkatan nyeri atau rasa terbakar
atau adanya edema atau eritema atau drainase atau bau tidak sedap.
3. Berikan perawatan luka.
4. Observasi luka untuk pembentukan bula, perubahan warna kulit kecoklatan
bau drainase yang tidak enak atau asam.
5. Kaji tonus otot, reflek tendon.
6. Selidiki nyeri tiba-tiba atau keterbatasan gerakan dengan edema lokal
atau enterna ekstermitas cedera
|
d. evaluasi
|
NO DX
|
IMPLEMENTASI
|
EVALUASI
|
|
1.
|
1) Mengkaji karakteristik nyeri: lokasi, durasi, intensitas nyeri.
2) Menagatur posisi imobilisasi pada daerah nyeri sendi atau nyeri di tulang
yang mengalami infeksi.
3) Mengajarkan relaksasi : teknik mengurangi ketegangan otot rangka
yang dapat mengurangi intensitas nyeri dan meningkatan relaksasi masase.
4) Mengajarkan metode distraksi selama nyeri akut.
|
S: klien mengatakan
nyeri sudah berkurang
O: sklala nyeri
sebelumnya 7 setelah dilakukan perawatan skala nyeri 4
A: masalah teratasi
sebagian
P: tindakan
dilanjutkan poin 3-4
|
|
3.
|
1) Pertahankan tirah baring dalam posisi yang di programkan.
2) Tinggikan ekstremitas yang sakit.
3) instruksikan klien / bantu dalam latihan rentang gerak pada ekstremitas
yang sakit dan tak sakit.
4) Beri penyanggah pada ekstremitas yang sakit pada saat bergerak.
|
S: klien sudah mampu
menjukkan imobilitas fisik
O: klien tampak sudah
bisa bergerak
A: masalah teratasi
P: tindakan di
hentikan
|
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Osteomielitis adalah infeksi tulang. Infeksi tulang lebih sulit disembuhkan
daripada infeksi jaringan lunak karena terbatasnya asupan darah, respons
jaringan terhadap inflamasi, tingginya tekanan jaringan dan pembentukan
involukrum (pembentukan tulang baru di sekeliling jaringan tulang mati).
Osteomielitis dapat menjadi masalah kronis yang akan mempengaruhi kualitas
hidup atau mengakibatkan kehilangan ekstremitas. (Brunner, suddarth.
(2001). Staphylococcus aureus hemolitikus (koagulasi positif)
sebanyak 90% dan jarang oleh streptococcus hemolitikus. Haemophylus influenza
(50%) pada anak-anak dibawah umur 4 tahun. Organism yang lain seperti : bakteri
coli, salmonella thyposa dan sebagainya. Proses spesifik (M.Tuberculosa).
Penyebaran hematogen dari pusat infeksi jauh (tonsilitis, bisul atau jerawat,
ISPA).
DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth.
2002. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC.
Doenges, E. Marilynn.
2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC.
Muttaqin, Arif.
2008. Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Muskuloskeletal. Jakarta:
EGC
http://nurse87.wordpress.com/2012/05/09/askep-osteomielitis/
http://nurse87.wordpress.com/2012/05/09/askep-osteomielitis/
